Matamaja Group || MAJALENGKA, Suasana haru menyelimuti halaman Pondok Pesantren Darul Ulum PUI Majalengka, Rabu (15/4/2026). Langkah kaki para santri yang biasanya riuh mendadak melambat, seakan ikut merasakan momen istimewa saat Kapolda Jawa Barat, Inspektur jenderal Polisi Dr. Rudi Setiawan, S.I.K., S.H., M.H., hadir membawa bukan hanya pesan keamanan, tetapi juga secercah harapan yang menggetarkan hati.
Didampingi Kapolres Majalengka, AKBP Rita Suwadi S.H.,S.I.K.,M.M., serta jajaran Pejabat Utama Polda Jabar, kedatangan rombongan disambut hangat oleh Pimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum PUI Majalengka, Dodi Rubiansyah, bersama Dewan Pembina Nurhasan Zaidi, tokoh agama, dan ratusan santri yang memadati area pesantren.
Namun, bukan sekadar kunjungan biasa. Di tengah sambutan dan doa yang mengalun lirih, suasana mendadak berubah menjadi penuh haru ketika Kapolda Jabar memberikan hadiah tiket umrah kepada empat pengurus pesantren. Tangis syukur pecah. Beberapa santri tampak menunduk, menahan air mata, menyaksikan momen yang begitu menyentuh—sebuah hadiah spiritual yang tak ternilai, panggilan suci ke Tanah Haram.
Dalam sambutannya, , Inspektur jenderal Polisi Dr. Rudi Setiawan, S.I.K., S.H., M.H., menegaskan bahwa pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga benteng moral bangsa.
“Pesantren memiliki kontribusi besar dalam menjaga persatuan, menanamkan nilai toleransi, dan membangun masyarakat religius yang cinta tanah air,” ujarnya dengan suara yang tegas namun penuh kehangatan.
Ia juga menekankan bahwa di tengah dinamika sosial yang terus berkembang, sinergi antara kepolisian dan ulama menjadi kunci utama menjaga kedamaian. Menurutnya, ulama dan santri adalah penjaga nilai, sementara kepolisian adalah penjaga ketertiban—keduanya harus berjalan beriringan.
“Kami berharap silaturahmi ini semakin mempererat hubungan antara Polri dengan para ulama dan santri sehingga bersama-sama menjaga kondusivitas wilayah Jawa Barat,” tambahnya.
Di balik seremoni itu, tersimpan pesan yang lebih dalam: tentang kebersamaan, tentang kepedulian, dan tentang harapan akan masa depan yang lebih damai. Di mata para santri, hari itu bukan sekadar kunjungan pejabat, melainkan pelajaran hidup—bahwa kekuatan bangsa lahir dari sinergi, dan keikhlasan akan selalu menemukan jalannya menuju keberkahan.






